Jadwal Liga 1 Indonesia

Ciro Immobile: Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk

Kumparan - Kernyitan di dahi jadi pemandangan jamak ketika Lazio, pada 27 Juli 2016, mengumumkan kedatangan Ciro Immobile dari Sevilla. Namun, hal itu tidak pernah nampak di dahi Simone Inzaghi.

"Ketika Igli Tare (direktur olahraga Lazio, red) mengatakan bahwa ada kesempatan untuk mendapatkan Immobile, saya langsung mengatakan agar dia segera melakukannya," kata Inzaghi kepada situs resmi UEFA.

Keyakinan Inzaghi itu tampak absolut dan sebenarnya agak mengherankan. Masalahnya, meskipun berhasil menjadi capocannoniere pada musim 2013/14, Immobile menghabiskan dua musim berikutnya dalam limbo. Terlebih, ketika itu Immobile didaulat untuk menjadi suksesor penyerang legendaris, Miroslav Klose. Lantas, tidaklah mengherankan jika kemudian keraguan atas Immobile merebak.

Ciro Immobile

Musim ini adalah musim kedua Immobile bersama Lazio dan kini, keraguan itu sudah lenyap. Kini, Ciro Immobile adalah nama yang paling kencang dielu-elukan di kurva utara Stadio Olimpico.

***

Ciro Immobile seharusnya bisa menjadi lebih Napoli dibanding Lorenzo Insigne sekalipun. Dia lahir dan besar di Napoli. Namanya pun Ciro, sebuah nama yang identik dengan kota tersebut. Sebelum Immobile, satu Ciro masyhur lainnya adalah Ciro Ferrara.

Alih-alih memilih untuk jadi pahlawan di Napoli, Immobile mengikuti jejak Ferrara untuk hijrah ke Italia Utara; ke Turin. Atau, lebih tepatnya lagi, ke Juventus, sebuah klub yang senantiasa dijadikan kata-kata hinaan oleh para Neapolitan.

Namun, ada perbedaan antara Ciro Ferrara dan Ciro Immobile. Ferrara hijrah ke Juventus setelah selesai menjadi bagian dari tim Napoli yang mengabadikan nama Diego Maradona sebagai Tuhan. Lahir dan besar di Napoli, Ferrara menghabiskan waktu satu dekade yang bergelimang trofi di San Paolo sebelum pindah ke kaki Alpen.

Sebaliknya, selain karena merupakan tempat kelahiran, tidak ada hal lain yang mengaitkan Ciro Immobile dengan Napoli. Sejak usia 17 tahun, Immobile sudah berkelana ke Turin setelah sebelumnya menimba ilmu di akademi sepak bola milik Sorrento. Sejak itu, Immobile tak pernah lagi menjejak kaki di kota yang jadi basis Camorra itu.

Perbedaan lain antara Ciro Ferrara dan Immobile adalah nasib mereka di Juventus. Ketika pensiun pada 2004 pada usia 37 tahun, Ferrara telah menahbiskan diri menjadi legenda Juventus. Namanya pun telah diabadikan dalam daftar 50 Legenda Agung Juventus bersama Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, serta Gianluigi Buffon.

Immobile, sebaliknya, meskipun dibesarkan dalam kultur sepak bola milik Juventus, pada akhirnya justru menemukan kebesaran di Torino, rival sekota Juventus yang reputasinya turut wafat seiring dengan Tragedi Superga tahun 1949. Dari 33 laga yang dilakoni pada musim 2013/14 Immobile sukses menyarangkan 22 gol. Ketika itu, dia sukses mengalahkan pemain-pemain macam Luca Toni, Carlos Tevez, serta Antonio Di Natale dan Gonzalo Higuain.

Ciro Immobile di Torino

Bagi Immobile sendiri, kiprah pertamanya di Torino itu adalah titik balik.

"Saya bisa saja kembali ke Juventus setelah tampil apik bersama Pescara dan Genoa. Namun, ketika saya menjadi capocannoniere bersama Torino, sulit rasanya untuk kembali berseragam Juventus," ujar Immobile.

Alih-alih Juventus, Immobile kemudian menerima pinangan Borussia Dortmund yang menyodorkan cek senilai 18 juta euro kepada Torino. Ketika itu, mereka sedang mencari suksesor yang pas untuk Robert Lewandowski yang baru saja memutuskan untuk pindah ke Bayern Muenchen.

Tanpa pikir panjang, Immobile mengiyakan tawaran Dortmund. Bersama dirinya, turut datang pula Adrian Ramos yang sebelumnya tampil memikat untuk Hertha BSC. Dua penyerang ini rencananya bakal dijadikan pesaing bagi Pierre-Emerick Aubameyang yang saat itu belum menemukan kembali ketajamannya kala masih berseragam Saint Etienne.

Pada akhirnya, sejarah mencatat bahwa Aubameyang-lah yang jadi pemenang dari pertarungan triple-threat itu. Sampai sekarang pun, penyerang buangan Milan itu masih menjadi tumpuan Die Borussen di lini depan. Malah, kini dirinya telah menjadi seteru utama Lewandowski untuk titel topjaegerkanone.

Immobile terbuang, Ramos pun demikian. Namun, di antara keduanya, Immobile-lah yang bernasib lebih buruk. Pasalnya, Ramos sendiri kemudian masih dipertahankan sampai pertengahan musim 2016/17 lalu. Sementara, Immobile langsung dibuang setelah hanya berseragam Dortmund selama satu musim.

Oleh Dortmund, Immobile dipinjamkan ke Sevilla. Perjanjiannya ketika itu pun menunjukkan betapa inginnya Dortmund menyingkirkan sang penyerang. Jika Sevilla memainkan Immobile dalam empat laga, maka mereka harus membelinya secara permanen. Celakalah Sevilla yang kemudian menurunkan Immobile dalam delapan pertandingan.

Ciro Immobile di Dortmund

Dari delapan pertandingan itu, semua upaya Immobile mentah. Tidak ada satu gol pun yang berhasil dikemasnya. Di Ramon Sanchez Pizjuan, Ciro Immobile kalah bersaing dengan Kevin Gameiro dan Fernando Llorente yang baru saja datang dari Juventus. Sampai di situ, nama Immobile pun berada sejajar dengan nama-nama macam Mario Balotelli dan Mattia Destro sebagai penyerang potensial Italia yang gagal bersinar.

Sevilla pun sebenarnya tak kehilangan akal. Pada pertengahan musim, mereka memulangkan Immobile ke Torino dengan harapan agar pemain bertinggi 185 cm itu bisa menemukan kembali ketajaman serta kepercayaan dirinya. Bersama Torino di musim 2015/16 itu, Immobile bermain sebanyak 14 kali dan mencetak lima gol. Tidak bisa dibilang baik, meski dibilang buruk pun sulit.

Akan tetapi, ketika Immobile kembali ke Sevilla, semuanya sudah berubah. Meski Unai Emery sudah tidak ada, posisinya kemudian digantikan oleh Jorge Sampaoli yang jelas-jelas tidak membutuhkan pemain macam Immobile. Sampaoli pun meminta agar Immobile dimasukkan ke daftar jual hingga akhirnya, kabar itu sampai ke kuping Igli Tare.

***

Bagi Ciro Immobile, ada dua hal krusial yang membuatnya berpendar di Ibu Kota. Pertama, tentu saja adalah kepercayaan dari sang allenatore. Kemudian, kepercayaan itu berkembang menjadi hal krusial kedua, yakni kesediaan Simone Inzaghi untuk membangun tim yang pas untuk cara bermain Immobile.

Kepercayaan yang didambakan Immobile itu tidak pernah didapatkannya di Dortmund maupun Sevilla. Di Dortmund, dia merasakan bahwa ada kebencian dari publik Jerman terhadap orang Italia.

Ciro Immobile di Sevilla

"Saya tidak pernah mengerti mengapa media Jerman tidak menyukai saya. Mereka memberitakan soal Bayern Muenchen yang membeli pemain dari Real Madrid, sedangkan Dortmund cuma membeli pemain dari Torino. Mungkin mereka masih dendam atas kejadian di Piala Dunia 2006," kata Immobile ketika itu.

Sementara itu, di Sevilla yang menjadi penghambat adalah Unai Emery sendiri. Menurut Immobile, dia jarang dimainkan karena perkara taktik dan imbasnya, Emery pun menyingkirkannya. Di Lazio, Immobile mendapatkan segala yang dia butuhkan. Sejak awal pun, Simone Inzaghi sudah menaruh kepercayaan kepadanya.

"Saya tahu bahwa Immobile adalah pencetak gol alami dan dia bakal mencetak banyak gol untuk kami," tutur Inzaghi. "Awalnya, saya tidak mengenal dirinya, tetapi kemudian kami bertemu dan dia bisa langsung beradaptasi."

Musim lalu, Immobile mencetak 23 gol. Jumlah itu sendiri lebih banyak satu gol ketimbang capaiannya kala menjadi capocannoniere pada 2013/14 silam. Namun, mengingat persaingan antar-bomber yang makin menggila di Serie A musim lalu, Immobile pun hanya duduk di urutan keenam daftar topskorer yang dipuncaki Edin Dzeko.

23 gol yang dihasilkan Immobile itu lahir dari pakem 4-3-3 yang dimainkan oleh Inzaghi di mana Felipe Anderson dan Keita Balde Diao menjadi penyokong di sayap. Musim ini, Lazio tak lagi menggunakan penyerang sayap dan area tepi lapangan mereka hanya dihuni oleh dua wing-back. Akan tetapi, dengan begitu Immobile justru semakin produktif.

Ciro Immobile dan Simone Inzaghi

Saat ini, sudah 11 gol dicetak Immobile hanya dalam delapan pertandingan. Artinya, dalam satu laga rata-rata golnya adalah 1,37 gol. Dengan laju seperti ini, untuk bisa mencapai catatannya musim lalu, Immobile hanya butuh sembilan pertandingan lagi. Lalu, apabila laju ini sukses dipertahankan sampai akhir, Immobile bakal menutup musim dengan raihan 52 gol.

Itu semua memang hitung-hitungan belaka. Namun, dari situ saja terlihat betapa berkembangnya Immobile sebagai seorang pemain. Ini belum termasuk bagaimana sampai saat ini dia sudah mencatatkan tiga assist. Musim lalu, butuh 36 laga bagi Immobile untuk mencatatkan tiga assist.

Dari sini, bisa dikatakan bahwa Immobile menjadi lebih komplet dan hal ini justru disebabkan oleh lebih leluasanya Immobile bergerak di lini depan tanpa "gangguan" dari dua penyerang sayap. Kini, dia telah menemukan tandem sehati dalam diri Luis Alberto, persis seperti ketika dulu dia bertandem dengan Alessio Cerci di Torino.

Immobile dan Luis Alberto (serta Sergej Milinkovic-Savic) saat ini begitu apik dalam melakukan link-up play. Ini kemudian berimbas pada akurasi umpan Immobile yang juga meningkat dari 78,4% menjadi 80,5%.

Performa apik Immobile ini pun tidak hanya berhenti di Lazio. Bersama Tim Nasional Italia pun dia mampu menunjukkan ketajaman di mana dari sepuluh pertandingan Kualifikasi Piala Dunia, enam gol sukses dia sarangkan. Artinya, ada konsistensi yang mampu dijaga dengan baik oleh Immobile.

Perlahan tapi pasti, Ciro Immobile telah menjelma menjadi sosok yang dulu diharapkan oleh Juventus. Di usianya yang ke-27 ini, dia telah matang sebagai pesepak bola dan masih punya empat sampai lima tahun lagi untuk berada di puncak karier. Jika laju ini mampu dipertahankan, bukan mustahil jika nantinya status legenda bakal melekat pada diri Immobile ketika pensiun kelak.

Sumber: Kumparan.com
BAGIKAN:

+1

PROMO! Talenan Hias -Klik Disini-